Namaku Lova Paramastri. Aku orangnya cuek, tidak peduli dengan tanggapan orang lain tentangku. Inilah aku, suka ataupun tidak terserah mereka. Akupun tidak bisa memaksa mereka menyukaiku. Aku bukan mahasiswa berprestasi, tidak cantik, tidak menarik, kuper, dan aku hanyalah orang biasa yang tidak jauh dari segala kekurangan. Tapi bukan halangan kan untuk terus belajar dan berusaha. Tetap semangat untukku walau kadang mengeluh.
Hujan
masih setia mengguyur alam semesta sejak semalam. Rasanya pagi ini ingin
bergelut dengan selimut saja. Tapi sayang, ada tanggung jawab yang harus
diselesaikan. Bukan tanggung jawab yang berat sebenarnya, melainkan sebagai
mahasiswa di tuntut aktif dalam segala hal yang berkaitan dengan kampus dan
Fakultas. Apalagi ini hari senin, aktifitas yang sungguh padat dan banyak
memakan waktuku. Sangat melelahkan!.
Kulangkahkan
kakiku, menuju almari mempersiapkan hijab dan baju yang akan kupakai sambil
menunggu motorku yang dipanaskan oleh ayah. Setelah sudah rapi dan semua sudah
siap aku pun bergegas ke kampus.
"Aku
berangkat dulu, Ayah, Ibu. Assalamu'alaikum," pamitku pada mereka.
"Wa'alaikum
salam. Hati-hati bawa sepedanya, Va," teriak ibuku ketika aku sudah
berlalu dari halaman rumah.
Setibanya
di kampus, aku bertemu dengan temanku; Dea, Rina, Ika. Mereka teman akrabku
sejak masuk kuliah di sini.
"Hai,
gimana minggumu kemarin?" tanya salah satu temanku.
"Ah,
nggak ada weekend. Di rumah mulu menemani kasurku yang sendirian,"
jawabku.
"Emang
kalian pada ke mana?" lanjutku, "Sama, musim penghujan jadi duduk aja
di rumah. Nih Rina, habis pulang ke kampung halaman. Kapan-kapan dong kita
diajak ke banyuwangi," sahut Dea sambil menyenggol lengan Rina di
sampingnya. Tak lama kemudian aku dan temanku berjalan menuju kelas, jarum jam
sudah menunjukkan pukul 07.20 WIB maka aku harus bergegas karena jam kuliah akan segera di mulai.
Jam
kuliah pun berakhir pukul 13.00 WIB. Kami tidak langsung pulang dan pergi ke
perpustakaan umum untuk meminjam buku sekaligus mengerjakan tugas di sana.
Perpustakaan ini menjadi saksi pertama kali aku mengagumi seseorang. Tentang
dia yang suka sendirian di bangku yang terletak di pojok depan. Aku tak
mengenalnya, hanya saja ketika melihatnya dengan beberapa komik yang terletak
di meja dan satu dibacanya membuatku kagum padanya. Hahhahaha Konyol sekali,
sesimpel itu menjatuhkan hati yang bahkan sifat dan karekternya masih
tersembunyi.
Hadiyata
Abisatya, sticker nama itu tertera di laptop depannya yang tidak sengaja
kulihat saat aku berjalan melewati mejanya. "Mungkin itu namanya ..."
batinku sambil tersenyum tidak jelas. Dia berperawakan tinggi sekitar 175 cm,
kulit sawo matang, hidung mancung, dan lesung pipi di sebelah kiri. Tampak
manis sekali.
Aku
bersama temanku duduk di meja paling belakang, menghadap kaca jendela yang
sedang menampakkan rintik-rintik hujan. "Hujan masih setia," gumamku.
"Ayo
pulang, Va," ajak Ika.
"Kalian
mau pulang? Masih hujan loh di luar," tanyaku
"Ya
maka dari itu, sebelum hujan makin deras dan mumpung ini masih rintik-rintik,
Va," aku pun menanggapi dengan ber oh ria.
"Kalian
duluan aja kalo gitu, aku masih mau disini."
Ternyata
hari itu adalah hari terakhir melihatnya, sudah sebulan ini aku pergi ke
perpustakaan tetapi tidak melihatnya sama sekali. Atau mungkin dia balik lebih
dulu karena cuaca yang tidak mendukung. Akhir-akhir ini sering terjadi hujan
dibarengi dengan angin kencang. Sangat menakutkan!.
Aku
ingin kembali ke mana aku belum merasakan jatuh cinta. Agar tak kecewa dan berharap
tentang ia yang selama ini bergentayangan dalam pikiranku. Padahal aku tidak
tahu apa hebatnya ia hingga membuatku terus memikirkannya yang jelas-jelas aku
tak tahu dia berasal dari mana, namanya saja aku tidak yakin. Bodoh sekali aku
yang masih setia menunggu ketidakpastian.
Sudah
beberapa tahun berlalu, aku berharap ia datang ke tempat yang sama. Aku
menunggu di tempat yang dulu sering ia tempati. Setiap kali pintu perpustakaan
itu berdecit tanda terbuka, kutolehkan kepalaku ke arah pintu itu berharap ia
kembali datang. "Sudahlah Va ini hanya sia-sia saja," tegur Ika
padaku yang tak mau menyerah, iya hanya Ika yang tahu tentang aku begitu
mengagumi seseorang. Dia yang pertama kali memergoki sikapku yang sangat
berbeda setiap aku memandangi kedatangan dengan Kak Satya. Seolah dia dunia
masa depanku. "Sebentar Ka, bukankah jika kita sabar menunggu dia akan
datang di tempat yang sama suatu hari nanti. Aku tak tahu pasti ia kapan
datang, tetapi jika aku terus menunggunya pasti aku bisa bertemu," yakinku
menjelaskan perasaanku pada Ika.
Hari
demi hari telah berlalu. Musim pun sudah berganti tak lagi hujan yang mebasahi
bumi setiap harinya.
Haii
... Selamat pagi hariku yang cerah. Sinarmu selalu kurindukan kini datang
kembali. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 aku bersiap-siap menuju kampus.
Kulangkahkan kakiku menuju motor yang sudah terparkir di halaman rumah.
"Ayah-ibu ... Aku berangkat ke kampus dulu ya. Assalamu'alaikum,"
kusalami tangan kedua orang tuaku secara bergantian, karena dari restu mereka
insyaallah akan ada keberkahan dalam setiap aktifitas yang kujalani.
Sesampai
di kampus aku dapat omelan dari sih Rina "Kamu itu dari mana aja
sih, jam segini baru nyampek kampus. Untung dosennya jam pertama nggak
masuk. Pasti kesiangan kan?"
"Ya
maka dari itu aku bangun siang, karena insting aku mengatakan kalo pak Ali nggak
ke kampus. Hahaha," jawabku dengan tertawa.
"Ya
udah yuk ke kantin, laper nih," ajak Dea. Kami pun berjalan menuju kantin.
Kini giliran aku dan Rina yang mengantri untuk memesan bakso di kantin mang
Ujok. Iya, kita berempat punya jadwal untuk memesan makanan di kantin dan yang
mencari tempat. Yang dua pesan makanan dan yang dua mencari tempat biar nggak
keduluan dengan yang lainnya. Setelah makanan sudah habis kita pergi ke kelas
untuk menempuh jam kuliah selanjutnya.
Aku
pulang terlebih dahulu dan meninggalkan teman-temanku. Tak sengaja kulihat
orang itu di lobby kampusku sedang berbicara dengan mahasiswi seniorku.
Pikirku salah orang, ternyata semakin aku berjalan mendekat semakin jelas
tampak dia yang selama ini aku tunggu. Rasanya ada banyak kupu-kupu
berterbangan di perutku dan bunga-bunga bermekaran memenuhi hatiku. Ingin aku
berjingkrak-jingkrak di tempat ini, tapi aku masih ingat ini masih di kawasan
umum. Ya Allah, sebahagia ini hanya dengan melihat dia yang baik-baik saja. Aku
melewatinya tanpa berani melihatnya, lalu kudengar ada suara bariton yang
tengah memanggilku "Lova Paramastri," aku pun menoleh ke segala arah,
suara itu sangat asing dalam pedengaranku. "Mungkin hanya halusinasi
..." gumamku tanpa penasaran lagi.
Sesampai
di parkir motorku, aku mulai mengenakan helm dan bergegas pulang karena Ibu menelphonku
menyuruhku pulang cepat. Tidak ada yang aneh, memang kebiasaan Ibu seperti itu.
Menyuruh pulang cepatlah, nggak boleh keluyuran lah dan sebagainya.
"Lova," panggil suara bariton yang sama dengan suara di loby tadi.
Aku menoleh ke sumber suara, aku melongo seperti tidak mungkin melihat lelaki
itu mendekat ke arahku. "Bukan, bukan dia pastinya," aku berperang
dengan batin saat dia sudah semakin mendekat. "Lova Paramastri, kan?"
tanyanya padaku saat sudah dekat. Sedang aku masih tak percaya menatap dia
masih dengan kebisuanku dan ia melambaikan tangannya di depan wajahku membuatku
tersadar. "Eh i--iya, ada apa, kak?"
uapku terbata-bata. Sumpah ini membuatku gemetar, salah tingkah tak
karuan. "Punya kamu, saya mau mengembalikannya," dia menyerahkan sapu
tangan itu, bagaimana bisa ada dengannya? Darimana dia tahu, bordir latin
namaku yang tertera di sapu tangan itu adalah punyaku? Aku bertanya-tanya dalam
batinku yang jelas tak tahu jawabannya. "Saya tahu kamu sedang memikirkan
bagaimana sapu tangan itu di tangan saya, dan dari mana saya tahu nama di sapu
tangan itu adalah kamu," lanjutnya dengan senyuman itu yang sangat membuatku
terpanah dan begitu saja berlalu pergi tanpa menjelaskan apapun.
Sesampai
di rumah ternyata ada yang bertamu, aku masuk dan mengucapkan salam. "Lova
masuklah, mereka menunggumu dan ingin berbicara denganmu," aku pun duduk
di kursi sebelah ibu. Di depanku sudah ada beberapa orang yang seusia ibu dan
ayah. Dan ada seorang laki-laki tua di sebelahnya. "Dengarkan baik-baik
Lova, saya akan berbicara to the point saja. Saya ingin melamar kamu,"
suara laki-laki paruh baya itu pun keluar. Aku terkejut, melamar saya yang
seusia anaknya ini untuk dijadikan istrinya yang ke berapa? Pikiranku sudah
berlarian kemana-mana. "Saya tidak mengenal anda dan begitupun sebaliknya
anda pasti belum mengenal saya," Aku mencoba berbicara dengan sopan, masih
dengan nada rendah karena aku masih menghormati beliau yang lebih tua.
"Tapi anak saya mengenal kamu, Nak," balas bapak itu.
Lalu
tak berselang lama tiba-tiba ada seseorang masuk "Assalamu'alaikum,"
lagi-lagi aku di buat terkejut dengan kedatangan pria itu “ini, anak saya.
Hadiyata Abisatya,” ucap Bapak paruh baya tersebut. “mungkin Lova masih
terkejut dengan kedatangan saya, bapak-Ibu/Abi-Umi izinkan saya berbicara
dengan Lova untuk menjelaskan perihal ini,” ucap Satya meminta Izin pada kedua
orang tuanya dan pada orang tua Lova. "Lova mungkin ini sangat mengejutkan
untukmu, jadi izinkan saya menjelaskan awal pertemuan kita sampai di detik
ini,” Izinnya dan diangguki oleh Lova. Setelah sampai di halaman rumah, kami
sama-sama diam untuk menormalkan kembali jantung yang berdegug kencang dan dia
pun mulai membuka mulutnya untuk menjelaskan situasi ini “Saya tahu kamu di
perpustakaan itu. Sejak pertama kali aku melihatmu, entah ada apa aku mulai
tertarik padamu. Dan percayalah, baru kali ini aku takut kehilangan seseorang.
Sapu tangan itu kuambil di mejamu tepat kita terakhir kali bertemu. Kau
meninggalkannya di tempat itu. Maaf saat itu aku belum berani mendekatimu dan
aku tahu namamu saat kudengar teman yang bersamamu itu memanggilmu. Aku
menghilang darimu untuk mencari siapa dirimu. Kau tahu selama ini siapa yang
membantuku mengenal dirimu?" Dia menjelaskan panjang lebar tentang
perasaannya padaku. "Siapa? Boleh aku tahu," aku bertanya kembali
padanya. "Ika, sahabat kamu. Yang selalu menemani kamu di perpustakaan
menungguku. Awal pertemuanku dengan Ika di supermarket dekat kampus kamu, aku
beranikan diriku bertanya tentang kamu. Dan syukurlah dia malah menawarkan
bantuannya padaku agar kita bertemu. Dan dari dia aku tahu kau juga menyukaiku,
maka aku mantapkan niatku untuk mempersuntingmu hari ini. Aku berharap kau akan
menjawab iya atas lamaranku ini," lanjutnya sedikit memaksa. Aku sedikit
terharu, baru kali ini ada pria yang mau mendekatiku. "Apakah kau akan
menerima segala kekuranganku dan apa adanya diriku?" tanyaku dengan
menundukkan kepala. "Lihatlah ke arahku," pintanya lirih, aku pun
menuruti dan mendongakkan kepalaku menatap ke arahnya. "Lova Paramastri...
maukah kau menjadi teman hidupku, menjadi Istriku?" lamar Hadiyata
Abisatya masih dengan wajah santainya. Ia menatapku penuh harap. Dan seketika itu aku mengganggukkan kepalaku
dan berkata "Iya, saya mau," dengan nada malu-malu. Karena Satya
tidak mau menunggu lama maka akan disegerakan pernikahannya terhitung satu
bulan dari hari ini dan sudah di setujui oleh kedua pihak keluarga itu.
Aku
dan Satya sedang duduk bersama di balkon kamar. Yap, aku sekarang tinggal
bersama dengan Satya di rumah yang sudah dipersiapkan Satya beberapa bulan lalu
sebelum aku dan satya menikah. "Lov, besok ada kuliah?" Tanya Satya
padaku, "Nggak ada mas, emang kenapa?" tanya Lova kembali.
"Besok ada kunjungan ke kafe yang ada di mojokerto itu, aku mau ngajak
kamu kalo kamu nggak ada kesibukan," jelas Satya. Lova mengangguk
mau. Satya memiliki kafe di beberapa kota. Bisnis kafe yang dikelolannya
berkembang dengan sangat baik, salah satunya di Mojokerto ini. Kini aku sudah
membiasakan diri untuk memanggil Satya dengan sebutan 'Mas' dan Satya
memanggilku dengan sebutan 'Lov' setelah akad nikah kita dilaksanakan.
Esok
harinya aku dan Satya bersiap menuju mojokerto. "Sudah siap, ayo
berangkat" ajak Satya. Sesampainya di lokasi aku tampak takjub dengan
desain kafe yang sangat asri dengan pemandangan di sekitarnya. Kafenya juga
tidak kalah menarik. "Waaah menakjubkan, pasti betah sih kalo diskusi
belajar atau nongkrong di sini," ucapku. "Iya memang kafe ini sengaja
aku desain dengan tempat yang sangat santai. Sengaja aku buat beberapa ruang
juga di dalamnya. Yang mana tempat tersebut tersedia banyak buku untuk mereka
yang suka membaca dari buku pelajaran, motivasi maupun novel. Dan di sebelahnya
tersedia juga taman bermain anak-anak untuk berkumpul dengan keluarganya. Aku
memilih membangun kafe ini di sini karena pemandangannya juga bagus banget
untuk bersantai. Untuk harga juga sengaja aku sesuaikan dengan kantong pelajar
ataupun mahasiswa. Sehingga semua kalangan dapat berkunjung ke sini,"
Satya menjelaskan padaku. "Keren sih ini mas, kalo boleh tahu alasannya
mendesain dengan gaya seperti ini apa?" tanyaku. "Ya karena aku suka
banget sama alam, dunia literasi dan juga indahnya moment berkumpul
dengan teman dan keluarga. Itu aja sih. Selain itu juga pasti semua orang
membutuhkan tempat yang nyaman untuk berkumpul." Dan selanjutnya kami
menuju rooftop yang di sana disediakan beberapa kamar untuk karyawan yang
merantau atau menginap dan satu ruangan untuk Satya. Mereka duduk dan menikmati
secangkir kopi yang sudah tersedia di meja. "Lov, terima kasih sudah
berusaha mencintaiku dan menjadi teman hidupku," Satya tak bosan-bosanya
memandangiku, sedangkan aku yang di pandang malu-malu dan kupastikan pipiku
sudah merona merah. "Mas Satya, Jangan pandangi Lova terus. Lova malu iiihhh,"
nadaku begitu kesal dengan tangan yang terus saja menutupi wajahnya. Lalu aku di
hampirinya, diraih tanganku oleh Satya agar aku bisa bertatap dengannya
"Lov, kau tahu kenapa aku selalu memanggilmu itu?" Lama aku tak
menjawab dan hanya bisa mengedipkan mataku menatapnya sambil menggelengkan
kepalaku tanda aku tak tahu jawabnya, cukup lama kami saling menatap dia
melanjutkan perkataannya "Karena kamu cintaku, kesayanganku, dan millikku
sepenuhnya. I Love You," kemudian kupeluk Satya cukup erat "Terima
kasih sudah menjadikan aku ratumu di istanamu ini, aku berharap kita akan tetap
seperti ini tanpa ada salah satu dari kita yang menghancurkannya. I Love you too
Mas Satya." Dikecupnya keningku oleh Satya dan kemudian kami saling
berpelukan cukup erat. Serasa dunia sudah milik kita sendiri. Biasalah pengantin baru maunya pelukan terus,
gandengan terus kayak truk. hahahaha
.
.
.
End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar