Selasa, 12 Juli 2022

Pertemuan Tak Terduga

           Namaku Lova Paramastri. Aku orangnya cuek, tidak peduli dengan tanggapan orang lain tentangku. Inilah aku, suka ataupun tidak terserah mereka. Akupun tidak bisa memaksa mereka menyukaiku. Aku bukan mahasiswa berprestasi, tidak cantik, tidak menarik, kuper, dan aku hanyalah orang biasa yang tidak jauh dari segala kekurangan. Tapi bukan halangan kan untuk terus belajar dan berusaha. Tetap semangat untukku walau kadang mengeluh.

Hujan masih setia mengguyur alam semesta sejak semalam. Rasanya pagi ini ingin bergelut dengan selimut saja. Tapi sayang, ada tanggung jawab yang harus diselesaikan. Bukan tanggung jawab yang berat sebenarnya, melainkan sebagai mahasiswa di tuntut aktif dalam segala hal yang berkaitan dengan kampus dan Fakultas. Apalagi ini hari senin, aktifitas yang sungguh padat dan banyak memakan waktuku. Sangat melelahkan!.

Kulangkahkan kakiku, menuju almari mempersiapkan hijab dan baju yang akan kupakai sambil menunggu motorku yang dipanaskan oleh ayah. Setelah sudah rapi dan semua sudah siap aku pun bergegas ke kampus.

"Aku berangkat dulu, Ayah, Ibu. Assalamu'alaikum," pamitku pada mereka.

"Wa'alaikum salam. Hati-hati bawa sepedanya, Va," teriak ibuku ketika aku sudah berlalu dari halaman rumah.

Setibanya di kampus, aku bertemu dengan temanku; Dea, Rina, Ika. Mereka teman akrabku sejak masuk kuliah di sini.

"Hai, gimana minggumu kemarin?" tanya salah satu temanku.

"Ah, nggak ada weekend. Di rumah mulu menemani kasurku yang sendirian," jawabku.

"Emang kalian pada ke mana?" lanjutku, "Sama, musim penghujan jadi duduk aja di rumah. Nih Rina, habis pulang ke kampung halaman. Kapan-kapan dong kita diajak ke banyuwangi," sahut Dea sambil menyenggol lengan Rina di sampingnya. Tak lama kemudian aku dan temanku berjalan menuju kelas, jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.20 WIB maka aku harus bergegas karena jam  kuliah akan segera di mulai.

Jam kuliah pun berakhir pukul 13.00 WIB. Kami tidak langsung pulang dan pergi ke perpustakaan umum untuk meminjam buku sekaligus mengerjakan tugas di sana. Perpustakaan ini menjadi saksi pertama kali aku mengagumi seseorang. Tentang dia yang suka sendirian di bangku yang terletak di pojok depan. Aku tak mengenalnya, hanya saja ketika melihatnya dengan beberapa komik yang terletak di meja dan satu dibacanya membuatku kagum padanya. Hahhahaha Konyol sekali, sesimpel itu menjatuhkan hati yang bahkan sifat dan karekternya masih tersembunyi.

Hadiyata Abisatya, sticker nama itu tertera di laptop depannya yang tidak sengaja kulihat saat aku berjalan melewati mejanya. "Mungkin itu namanya ..." batinku sambil tersenyum tidak jelas. Dia berperawakan tinggi sekitar 175 cm, kulit sawo matang, hidung mancung, dan lesung pipi di sebelah kiri. Tampak manis sekali.

Aku bersama temanku duduk di meja paling belakang, menghadap kaca jendela yang sedang menampakkan rintik-rintik hujan. "Hujan masih setia," gumamku.

"Ayo pulang, Va," ajak Ika.

"Kalian mau pulang? Masih hujan loh di luar," tanyaku

"Ya maka dari itu, sebelum hujan makin deras dan mumpung ini masih rintik-rintik, Va," aku pun menanggapi dengan ber oh ria.

"Kalian duluan aja kalo gitu, aku masih mau disini."

Ternyata hari itu adalah hari terakhir melihatnya, sudah sebulan ini aku pergi ke perpustakaan tetapi tidak melihatnya sama sekali. Atau mungkin dia balik lebih dulu karena cuaca yang tidak mendukung. Akhir-akhir ini sering terjadi hujan dibarengi dengan angin kencang. Sangat menakutkan!.

Aku ingin kembali ke mana aku belum merasakan jatuh cinta. Agar tak kecewa dan berharap tentang ia yang selama ini bergentayangan dalam pikiranku. Padahal aku tidak tahu apa hebatnya ia hingga membuatku terus memikirkannya yang jelas-jelas aku tak tahu dia berasal dari mana, namanya saja aku tidak yakin. Bodoh sekali aku yang masih setia menunggu ketidakpastian.

Sudah beberapa tahun berlalu, aku berharap ia datang ke tempat yang sama. Aku menunggu di tempat yang dulu sering ia tempati. Setiap kali pintu perpustakaan itu berdecit tanda terbuka, kutolehkan kepalaku ke arah pintu itu berharap ia kembali datang. "Sudahlah Va ini hanya sia-sia saja," tegur Ika padaku yang tak mau menyerah, iya hanya Ika yang tahu tentang aku begitu mengagumi seseorang. Dia yang pertama kali memergoki sikapku yang sangat berbeda setiap aku memandangi kedatangan dengan Kak Satya. Seolah dia dunia masa depanku. "Sebentar Ka, bukankah jika kita sabar menunggu dia akan datang di tempat yang sama suatu hari nanti. Aku tak tahu pasti ia kapan datang, tetapi jika aku terus menunggunya pasti aku bisa bertemu," yakinku menjelaskan perasaanku pada Ika.

Hari demi hari telah berlalu. Musim pun sudah berganti tak lagi hujan yang mebasahi bumi setiap harinya.

Haii ... Selamat pagi hariku yang cerah. Sinarmu selalu kurindukan kini datang kembali. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 aku bersiap-siap menuju kampus. Kulangkahkan kakiku menuju motor yang sudah terparkir di halaman rumah. "Ayah-ibu ... Aku berangkat ke kampus dulu ya. Assalamu'alaikum," kusalami tangan kedua orang tuaku secara bergantian, karena dari restu mereka insyaallah akan ada keberkahan dalam setiap aktifitas yang kujalani.

Sesampai di kampus aku dapat omelan dari sih Rina "Kamu itu dari mana aja sih, jam segini baru nyampek kampus. Untung dosennya jam pertama nggak masuk. Pasti kesiangan kan?"

"Ya maka dari itu aku bangun siang, karena insting aku mengatakan kalo pak Ali nggak ke kampus. Hahaha," jawabku dengan tertawa.

"Ya udah yuk ke kantin, laper nih," ajak Dea. Kami pun berjalan menuju kantin. Kini giliran aku dan Rina yang mengantri untuk memesan bakso di kantin mang Ujok. Iya, kita berempat punya jadwal untuk memesan makanan di kantin dan yang mencari tempat. Yang dua pesan makanan dan yang dua mencari tempat biar nggak keduluan dengan yang lainnya. Setelah makanan sudah habis kita pergi ke kelas untuk menempuh jam kuliah selanjutnya.

Aku pulang terlebih dahulu dan meninggalkan teman-temanku. Tak sengaja kulihat orang itu di lobby kampusku sedang berbicara dengan mahasiswi seniorku. Pikirku salah orang, ternyata semakin aku berjalan mendekat semakin jelas tampak dia yang selama ini aku tunggu. Rasanya ada banyak kupu-kupu berterbangan di perutku dan bunga-bunga bermekaran memenuhi hatiku. Ingin aku berjingkrak-jingkrak di tempat ini, tapi aku masih ingat ini masih di kawasan umum. Ya Allah, sebahagia ini hanya dengan melihat dia yang baik-baik saja. Aku melewatinya tanpa berani melihatnya, lalu kudengar ada suara bariton yang tengah memanggilku "Lova Paramastri," aku pun menoleh ke segala arah, suara itu sangat asing dalam pedengaranku. "Mungkin hanya halusinasi ..." gumamku tanpa penasaran lagi.

Sesampai di parkir motorku, aku mulai mengenakan helm dan bergegas pulang karena Ibu menelphonku menyuruhku pulang cepat. Tidak ada yang aneh, memang kebiasaan Ibu seperti itu. Menyuruh pulang cepatlah, nggak boleh keluyuran lah dan sebagainya. "Lova," panggil suara bariton yang sama dengan suara di loby tadi. Aku menoleh ke sumber suara, aku melongo seperti tidak mungkin melihat lelaki itu mendekat ke arahku. "Bukan, bukan dia pastinya," aku berperang dengan batin saat dia sudah semakin mendekat. "Lova Paramastri, kan?" tanyanya padaku saat sudah dekat. Sedang aku masih tak percaya menatap dia masih dengan kebisuanku dan ia melambaikan tangannya di depan wajahku membuatku tersadar. "Eh i--iya, ada apa, kak?"  uapku terbata-bata. Sumpah ini membuatku gemetar, salah tingkah tak karuan. "Punya kamu, saya mau mengembalikannya," dia menyerahkan sapu tangan itu, bagaimana bisa ada dengannya? Darimana dia tahu, bordir latin namaku yang tertera di sapu tangan itu adalah punyaku? Aku bertanya-tanya dalam batinku yang jelas tak tahu jawabannya. "Saya tahu kamu sedang memikirkan bagaimana sapu tangan itu di tangan saya, dan dari mana saya tahu nama di sapu tangan itu adalah kamu," lanjutnya dengan senyuman itu yang sangat membuatku terpanah dan begitu saja berlalu pergi tanpa menjelaskan apapun.

Sesampai di rumah ternyata ada yang bertamu, aku masuk dan mengucapkan salam. "Lova masuklah, mereka menunggumu dan ingin berbicara denganmu," aku pun duduk di kursi sebelah ibu. Di depanku sudah ada beberapa orang yang seusia ibu dan ayah. Dan ada seorang laki-laki tua di sebelahnya. "Dengarkan baik-baik Lova, saya akan berbicara to the point saja. Saya ingin melamar kamu," suara laki-laki paruh baya itu pun keluar. Aku terkejut, melamar saya yang seusia anaknya ini untuk dijadikan istrinya yang ke berapa? Pikiranku sudah berlarian kemana-mana. "Saya tidak mengenal anda dan begitupun sebaliknya anda pasti belum mengenal saya," Aku mencoba berbicara dengan sopan, masih dengan nada rendah karena aku masih menghormati beliau yang lebih tua. "Tapi anak saya mengenal kamu, Nak," balas bapak itu.

Lalu tak berselang lama tiba-tiba ada seseorang masuk "Assalamu'alaikum," lagi-lagi aku di buat terkejut dengan kedatangan pria itu “ini, anak saya. Hadiyata Abisatya,” ucap Bapak paruh baya tersebut. “mungkin Lova masih terkejut dengan kedatangan saya, bapak-Ibu/Abi-Umi izinkan saya berbicara dengan Lova untuk menjelaskan perihal ini,” ucap Satya meminta Izin pada kedua orang tuanya dan pada orang tua Lova. "Lova mungkin ini sangat mengejutkan untukmu, jadi izinkan saya menjelaskan awal pertemuan kita sampai di detik ini,” Izinnya dan diangguki oleh Lova. Setelah sampai di halaman rumah, kami sama-sama diam untuk menormalkan kembali jantung yang berdegug kencang dan dia pun mulai membuka mulutnya untuk menjelaskan situasi ini “Saya tahu kamu di perpustakaan itu. Sejak pertama kali aku melihatmu, entah ada apa aku mulai tertarik padamu. Dan percayalah, baru kali ini aku takut kehilangan seseorang. Sapu tangan itu kuambil di mejamu tepat kita terakhir kali bertemu. Kau meninggalkannya di tempat itu. Maaf saat itu aku belum berani mendekatimu dan aku tahu namamu saat kudengar teman yang bersamamu itu memanggilmu. Aku menghilang darimu untuk mencari siapa dirimu. Kau tahu selama ini siapa yang membantuku mengenal dirimu?" Dia menjelaskan panjang lebar tentang perasaannya padaku. "Siapa? Boleh aku tahu," aku bertanya kembali padanya. "Ika, sahabat kamu. Yang selalu menemani kamu di perpustakaan menungguku. Awal pertemuanku dengan Ika di supermarket dekat kampus kamu, aku beranikan diriku bertanya tentang kamu. Dan syukurlah dia malah menawarkan bantuannya padaku agar kita bertemu. Dan dari dia aku tahu kau juga menyukaiku, maka aku mantapkan niatku untuk mempersuntingmu hari ini. Aku berharap kau akan menjawab iya atas lamaranku ini," lanjutnya sedikit memaksa. Aku sedikit terharu, baru kali ini ada pria yang mau mendekatiku. "Apakah kau akan menerima segala kekuranganku dan apa adanya diriku?" tanyaku dengan menundukkan kepala. "Lihatlah ke arahku," pintanya lirih, aku pun menuruti dan mendongakkan kepalaku menatap ke arahnya. "Lova Paramastri... maukah kau menjadi teman hidupku, menjadi Istriku?" lamar Hadiyata Abisatya masih dengan wajah santainya. Ia menatapku penuh harap.  Dan seketika itu aku mengganggukkan kepalaku dan berkata "Iya, saya mau," dengan nada malu-malu. Karena Satya tidak mau menunggu lama maka akan disegerakan pernikahannya terhitung satu bulan dari hari ini dan sudah di setujui oleh kedua pihak keluarga itu.

Aku dan Satya sedang duduk bersama di balkon kamar. Yap, aku sekarang tinggal bersama dengan Satya di rumah yang sudah dipersiapkan Satya beberapa bulan lalu sebelum aku dan satya menikah. "Lov, besok ada kuliah?" Tanya Satya padaku, "Nggak ada mas, emang kenapa?" tanya Lova kembali. "Besok ada kunjungan ke kafe yang ada di mojokerto itu, aku mau ngajak kamu kalo kamu nggak ada kesibukan," jelas Satya. Lova mengangguk mau. Satya memiliki kafe di beberapa kota. Bisnis kafe yang dikelolannya berkembang dengan sangat baik, salah satunya di Mojokerto ini. Kini aku sudah membiasakan diri untuk memanggil Satya dengan sebutan 'Mas' dan Satya memanggilku dengan sebutan 'Lov' setelah akad nikah kita dilaksanakan.

Esok harinya aku dan Satya bersiap menuju mojokerto. "Sudah siap, ayo berangkat" ajak Satya. Sesampainya di lokasi aku tampak takjub dengan desain kafe yang sangat asri dengan pemandangan di sekitarnya. Kafenya juga tidak kalah menarik. "Waaah menakjubkan, pasti betah sih kalo diskusi belajar atau nongkrong di sini," ucapku. "Iya memang kafe ini sengaja aku desain dengan tempat yang sangat santai. Sengaja aku buat beberapa ruang juga di dalamnya. Yang mana tempat tersebut tersedia banyak buku untuk mereka yang suka membaca dari buku pelajaran, motivasi maupun novel. Dan di sebelahnya tersedia juga taman bermain anak-anak untuk berkumpul dengan keluarganya. Aku memilih membangun kafe ini di sini karena pemandangannya juga bagus banget untuk bersantai. Untuk harga juga sengaja aku sesuaikan dengan kantong pelajar ataupun mahasiswa. Sehingga semua kalangan dapat berkunjung ke sini," Satya menjelaskan padaku. "Keren sih ini mas, kalo boleh tahu alasannya mendesain dengan gaya seperti ini apa?" tanyaku. "Ya karena aku suka banget sama alam, dunia literasi dan juga indahnya moment berkumpul dengan teman dan keluarga. Itu aja sih. Selain itu juga pasti semua orang membutuhkan tempat yang nyaman untuk berkumpul." Dan selanjutnya kami menuju rooftop yang di sana disediakan beberapa kamar untuk karyawan yang merantau atau menginap dan satu ruangan untuk Satya. Mereka duduk dan menikmati secangkir kopi yang sudah tersedia di meja. "Lov, terima kasih sudah berusaha mencintaiku dan menjadi teman hidupku," Satya tak bosan-bosanya memandangiku, sedangkan aku yang di pandang malu-malu dan kupastikan pipiku sudah merona merah. "Mas Satya, Jangan pandangi Lova terus. Lova malu iiihhh," nadaku begitu kesal dengan tangan yang terus saja menutupi wajahnya. Lalu aku di hampirinya, diraih tanganku oleh Satya agar aku bisa bertatap dengannya "Lov, kau tahu kenapa aku selalu memanggilmu itu?" Lama aku tak menjawab dan hanya bisa mengedipkan mataku menatapnya sambil menggelengkan kepalaku tanda aku tak tahu jawabnya, cukup lama kami saling menatap dia melanjutkan perkataannya "Karena kamu cintaku, kesayanganku, dan millikku sepenuhnya. I Love You," kemudian kupeluk Satya cukup erat "Terima kasih sudah menjadikan aku ratumu di istanamu ini, aku berharap kita akan tetap seperti ini tanpa ada salah satu dari kita yang menghancurkannya. I Love you too Mas Satya." Dikecupnya keningku oleh Satya dan kemudian kami saling berpelukan cukup erat. Serasa dunia sudah milik kita sendiri.  Biasalah pengantin baru maunya pelukan terus, gandengan terus kayak truk. hahahaha

.

.

.

End

Pertemuan Tak Terduga

               Namaku Lova Paramastri. Aku orangnya cuek, tidak peduli dengan tanggapan orang lain tentangku. Inilah aku, suka ataupun tidak...